|
Written by L. Hendrawan
|
|
Tuesday, 14 October 2008 |
|
Page 2 of 2 Anak sangat memahami, rasanya terlalu sulit untuk menjadi seperti mereka pada saat ini, sebab bangsawan (orang yang besar rasa kebangsaannya) dan negarawan (para pecinta negera) di negeri kita ini hanya tinggal beberapa gelintir sebagai orang yang tersingkirkan, sisanya tinggal Sakadang Monyet dan Sakadang Kuya yang masih terus-menerus mencuri di kebun kita dan celakanya hukum tidak dapat bicara apa-apa lagi karena mulutnya diberangus dan terbungkam. Ternyata yang Ibu ceritakan itu benar semua dan sekarang monyet-monyetnya tidak hanya mencuri pisang emas dan cabai merah bahkan mereka berani bermain wanita di kebun kita sambil berteriak-teriak “saha latah…latah…?!” Sedangkan sakadang kuya yang berlindung di balik batoknya diam-diam merangkak di tanah putih kita dan terus menghasut hingga tanpa sadar kini mereka terkena hasutannya sendiri. Jadi Bu, sekarang suara trang-trang kolentrang sudah terdengar di negara kita, maka Ibu tak perlu heran kenapa sebagian besar dari putra-putri ibu itu sudah menjadi batu seperti si Malin Kundang. Ibu, sebetulnya masih banyak cerita yang lebih parah dan menyedihkan dari sedikit kejadian yang anak kisahkan di atas. Tapi bagaimanapun kisahnya Ibu tidak boleh marah dan tidak boleh sedih, janji ya Bu… Selain pencuri (koruptor) bertambah banyak dan sudah merasuk sampai ke tingkat pemerintahan terkecil, pemerintahan besar yang dipilih rakyat untuk menata negara inipun ternyata kurang mengerti tentang ajaran Bapak. Banyak dari mereka yang tidak memahami makna lambang dalam Garuda Pancasila, misalnya; “Kemanusiaan yang adil dan beradab” lalu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bu, lambang-lambang negara itu kini oleh mereka hanya dianggap sebagai gambar dan bukan lagi sebagai falsafah berbangsa dan bernegara (ideologi), maka itu sebabnya di negera kita sekarang banyak yang miskin semakin sekarat dan yang kaya semakin mewah. Jadi, kelihatannya sebagian besar dari mereka itu tidak memahami arti kata ADIL maka semakin jauh mereka dari BERADAB. Bu, hampir setiap hari anak lihat putra-putri Ibu saling cakar saling tampar dan saling menyalahkan. Lucunya mereka itu masing-masing merasa benar, setelah itu tinggal adu kekuatan dan seperti biasa siapa kuat dia yang menang. Bu politik adu domba yang dulu menghancurkan negeri kita ini mungkin masih hidup dengan nyaman mengakar hingga kebudaya hidup putra-putri Ibu Pertiwi. Sekarang anak semakin yakin, setelah dulu Bapak diasingkan, putra-putri Ibu kini jadi tidak mengenal hidup rukun dan damai. Ibu sungguh anak kini teramat rindu kepada Bapak yang berada dalam pengasingan, mungkin Ibu tahu kabar beliau saat ini? Semoga beliau yang terasingkan oleh putra-putrinya sendiri tetap sehat dan tidak kurang sesuatu apapun serta tuhan tetap melindunginya dengan cinta dan kasih sayang-Nya. Sebenarnya masih berjuta cerita yang ingin anak sampaikan namun anak khawatir Ibu akan semakin bersedih, sebab ceritanya banyak yang tidak enak didengar oleh Ibu yang sudah semakin tua dan rapuh. Ibu sekian dulu surat dari anak, sekali lagi anak berharap agar Ibu kembali sehat dan jangan bersedih, sebab anak akan menjaga Ibu hingga hembusan nafas terakhir. Semoga DIA Yang Maha Adil tetap mengasihi kita semua. Salam hormat dari anak-anak Ibu. Bandung, 19 Juli 2008
|
|
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
|
selamat ulang tahun bwat Bikers broth...
Saya sangat tertarik untuk bergabung ...
Suport 4Ever Brotherhood - One Heart ...
Persaudaraan yang di bangun berdasark...
gan ada g motor tua dibawah 10 juta???