|
Page 1 of 2 APA yang telah dan sedang dirintis oleh kelompok atau komunitas penggila motor Bikers Brotherhood Motorcycles Club Bandung, membuat hampir semua orang terperangah. Bagaimana tidak, kelompok dengan ruh serta jiwa persaudaraan yang ditempatkan diatas segalanya , serta jumlah anggota yang kini mencapai tidak kurang dari 1.400 personel ini, tidak pernah stuck menghadirkan surprise.
Tengok kebelakang. beberapa event yang mereka gelar boleh kita golongkan pada acara berkategori fenomenal dan spektakuler. Sebut saja “Rolling Thunder & City Camp” yang dipentaskan saat mereka merayakan hari jadinya yang ke-13 pada tahun 2001. Saat itu, pada hari yang sama suasana kota Bandung begitu mencekam, siaga merah karena hampir disemua sudut kota tengah berlangsung demo buruh. Aksi bakar mobil didepan Gedung Sate juga makin memanaskan suasana. Masyarakat takut keluar rumah, moda angkutan umum lumpuh, nyaris tak ada kendaraan yang beroperasi, lalu lintas Kota Bandung lenggang. Namun ajaibnya, rolling thunder tidak terhenti karena itu semua. Item acara terselenggara dengan sukses, baik yang dijalanan maupun yang dipentaskan di Gelora Saparua. Acara spektakuler terus berlangsung pada setiap tahunnya. Berturut-turut event lain yang pantas disebut adalah “Riding Storm”. Kemudian, mereka juga memberikan ciri khusus saat digelar perayaan centennial 100 tahun Harley-Davidson di Bali pada Tahun 2003. Berikutnya adalah gelar event di Garuda Wisnu Kencana Bali, lantas “Junkyard Party” untuk merayakan hari jadi Bikers Brotherhood MC ke-17. Para pentolan dan konseptor Bikers Brotherhood selalu memiliki isu aktual untuk diangkat ke permukaan atau ke tengah publik. Tahun ini, sejalan dengan momentum Satu Abad Kebangkitan Nasional, kembali mereka mengapungkan suatu tema untuk bersama-sama direnungkan. Konsep pemahaman tentang kehidupan berbangsa diangkat sebagai isu sentral. Dengan semangat dan jiwa persaudaraan, mereka menggelorakan momentum Kebangkitan Nasional. Upaya untuk menjadi manusia yang memiliki fungsi sosial ditengah masyarakat terus digalang, dilakukan dan dihembuskan ditengah keprihatinan rendahnya moral beberapa petinggi dan penyelenggara negara, serta wakil-wakil rakyat yang berselingkuh dengan ketidakbenaran. Pesan moral pun disampaikan untuk mencapai kehidupan berbangsa yang lebih baik. Tepat ditengah perayaan “The 20th Anniversary of Bikers Brotherhood MC” dirancang suatu perhelatan bertajuk “BAND OF BIKERS The Long Way to Glory”. Segepok doktrin disusun. Bukan hanya sebagai panduan acara namun juga sekaligus sebagai bahan renungan dan ajakan untuk menjadi bagian dari manusia yang memiliki jiwa patriot. Setidaknya untuk internal ditubuh para anggota Bikers Brotherhood sendiri. Mereka samasekali tak pernah memedulikan respon sinis dari segelintir kaum hipokrit ditengah masyarakat. Sepanjang itu dianggap sebagai hal positif dan ketika apa yang tengah Bikers Brotherhood jalankan ada dijalur yang benar, maka itu pula yang akan mereka terus rintis dan lakukan. Jadi, semua itu bukanlah suatu pekerjaan atau projek pupujieun. Mereka hanya berharap Indonesia yang lebih baik. Untuk merayakan hari jadinya yang jatuh pada tanggal 13 Juni lalu, komunitas fenomenal yang memiliki lima chapter tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghayati arti pentingnya kehidupan berbangsa serta bangga dan berupaya menegakkan kehormatan negeri sendiri. Ini akan menjadi tonggak sejarah dalam keseluruhan perjalanan hidup Bikers Brotherhood, yang dituangkan dan dipentaskan dalam sebuah perhelatan diseluruh Areal Kompleks GOR Saparua, Bandung pada 19-20 Juli 2008. Upaya sosialisai ditempuh. Hampir semua kalangan dan unsur masyarakat dirangkul. Dari mulai kaum perintis dilingkungan LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia), militer aktif, Pramuka, Wanadri, birokrat, Paskibraka hingga Walhi. Kondisi terus berkembang. Kini jelas, Bikers Brotherhood bukan sekadar kumpulan para penyuka motor tua belaka. Mereka mencoba mengambil bagian untuk memiliki posisi ditengah struktur sosial. Menjadi unsur penting dan positif untuk kelangsungan hidup bernegara yang memiliki masa depan yang gilang gemilang. Jadi, sebaiknya mereka tidak perlu berbangga diri dengan sebutan bajingan yang kerap dialamatkan. Karena sejatinya, mereka adalah komponen vital dalam tatanan kemasyarakatan dan punya potensi untuk mengajak dan mengimbau masyarakat lain untuk bangga bernegara dan mencapai Indonesia yang lebih baik.
|